Xi Jinping dan Vladimir Putin Absen di KTT BRICS 2025, Tuan Rumah Brasil Hadapi Tantangan Diplomatik
Info Mempawah – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 resmi digelar di Rio de Janeiro, Brasil mulai Sabtu (5/7) hingga Senin (7/7/2025). Namun, untuk pertama kalinya dalam 12 tahun, Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin dipastikan tidak menghadiri pertemuan puncak ini.

Kehadiran mereka akan digantikan oleh perwakilan tingkat tinggi. PM China Li Qiang mewakili Xi, sementara Putin absen karena alasan hukum internasional—ia menjadi subjek surat perintah penangkapan dari Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).
Ketidakhadiran dua tokoh besar BRICS ini dinilai sebagai pukulan diplomatik bagi Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, yang berharap KTT ini memperkuat posisi Brasil di kancah global menjelang KTT G20 dan COP30 yang juga akan diselenggarakan di Brasil pada akhir 2025.
Alasan Xi Jinping dan Putin Absen di KTT BRICS 2025
China belum memberikan alasan resmi atas absennya Xi. Namun, analis dari Brookings Institution, Ryan Hass, menyebut bahwa keputusan ini kemungkinan dipengaruhi oleh status PM India Narendra Modi yang diundang sebagai tamu kehormatan dan akan menerima jamuan makan siang kenegaraan dari Lula.
“Xi tidak ingin terlihat kalah pamor dari Modi,” kata Hass, menambahkan bahwa absennya Xi adalah strategi diplomatik untuk menjaga posisi China di tengah dinamika geopolitik.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga dipastikan absen akibat krisis domestik menyusul konflik 12 hari dengan Israel.
Baca Juga : Kesaksian Pekerja Distribusi Bantuan Gaza: Tembak Saja, Tanya Belakangan
Isu Dollar AS dan Tekanan Trump Bayangi KTT BRICS
Dalam forum perbankan BRICS, Lula kembali menegaskan keinginannya untuk mengurangi ketergantungan pada dollar AS dalam perdagangan antarnegara anggota BRICS.
“Jika kita tidak menemukan formula baru, kita akan mengakhiri abad ke-21 seperti kita memulai abad ke-20,” ujar Lula.
Namun, rencana ini diperkirakan akan berjalan hati-hati. Kembalinya Donald Trump sebagai figur kuat dalam politik AS memicu kekhawatiran negara-negara anggota. Trump bahkan mengancam akan mengenakan tarif hingga 100 persen pada negara-negara yang menantang dominasi dollar AS.
Konsolidasi Sulit, Perbedaan Pandangan Jadi Tantangan BRICS
Direktur Pusat Kebijakan BRICS di Pontifical Catholic University, Marta Fernandez. Ia menyebut bahwa perbedaan pandangan antaranggota mengenai isu global seperti perdagangan, Timur Tengah, dan iklim akan menyulitkan penyusunan komunike bersama.
“Sulit membayangkan pertemuan ini secara terbuka menyebut Amerika Serikat dalam deklarasi akhir,” kata Fernandez.
KTT BRICS 2025 pun diprediksi akan berlangsung dengan nada diplomatik yang lebih hati-hat. Terutama karena China dan negara anggota lainnya tidak ingin memicu ketegangan baru dengan Washington.
















