
Info Mempawah – Lima tahun bekerja di bank tidak membuat Merianti (30), lulusan Manajemen asal Pontianak, merasa cukup. Merasa jenuh dengan rutinitas dan ingin hidup lebih mandiri, ia memutuskan keluar dari zona nyaman dan mencoba program Working Holiday Visa (WHV) di Australia. Keputusan ini terbukti mengubah hidupnya secara signifikan.
“Motivasinya ekonomi, tapi saya juga ingin belajar hidup mandiri dan mengenal budaya baru,” ungkap Merianti.
Selama lebih dari satu setengah tahun tinggal di Australia, Merianti telah menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari waitress, pencuci piring, kerja gudang, hingga petik dan sortir buah di kebun. Gaji yang ia terima pun jauh lebih tinggi dibandingkan di Indonesia. Dengan upah minimum AUD 30,13 per jam (sekitar Rp 331.000), Merianti bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, membayar sewa, bahkan menabung.
Baca Juga : Siapa Jeff Bezos, Kenapa Pernikahannya Diprotes Warga Venesia?
“Kalau pintar mengatur pengeluaran, masih bisa disisihkan buat tabungan,” katanya.
Merianti menilai proses melamar kerja di Australia jauh lebih simpel. Ia hanya perlu membawa CV sederhana tanpa foto atau ijazah. Lamaran diserahkan langsung ke tempat kerja tanpa prosedur berbelit.
“Kadang langsung disuruh trial kerja 3 jam. Kalau cocok, lanjut kontrak,” jelasnya.
Meski begitu, tantangan tetap ada. Terutama dari sisi fisik. Saat memetik apel, ia harus membawa tas kangguru penuh buah sambil naik turun tangga. Butuh stamina dan adaptasi cepat setiap berganti jenis pekerjaan.
“Kuncinya harus siap kerja keras dan cepat belajar,” ucapnya.
Pengalaman Kerja di Australia Jadi Inspirasi Anak Muda Indonesia
Salah satu hal yang ia apresiasi adalah budaya kerja di Australia yang disiplin namun adil. Keterlambatan dianggap serius, tetapi hak pekerja dilindungi dengan tegas. Tidak ada toleransi terhadap bullying dan pelecehan, dan semua pelanggaran bisa dilaporkan.
“Kalau lembur dibayar sesuai jam, semuanya fair,” ujar Merianti.
Pengalaman ini membuatnya mendorong generasi muda Indonesia untuk berani mencoba program WHV. Ia menekankan pentingnya riset dan kesiapan mental sebelum berangkat.
“Semua harus diurus sendiri. Cari informasi dari YouTube, media sosial, atau teman yang sudah pengalaman,” pesannya.
Kini, Merianti lebih percaya diri menghadapi masa depan. Pengalaman bekerja di luar negeri tidak hanya memberinya penghasilan lebih besar, tapi juga membentuk mental dan pola pikir yang lebih terbuka. Program WHV, menurutnya, adalah peluang nyata untuk tumbuh dan belajar di luar zona nyaman.
















