Politik Identitas: Antara Strategi Politik dan Ancaman Persatuan
Info Mempawah- Politik identitas belakangan ini sering menjadi sorotan dalam dinamika demokrasi Indonesia. Istilah ini merujuk pada praktik politik yang menggunakan identitas tertentu—seperti agama, suku, ras, maupun golongan—sebagai alat untuk meraih dukungan. Di satu sisi, pollitik identitas dianggap sebagai strategi sah dalam kontestasi politik. Namun, di sisi lain, praktik yang berlebihan dapat memicu perpecahan sosial dan mengancam persatuan bangsa.
Sejarah Politik Identitas di Indonesia
Sejak era reformasi 1998, kebebasan berekspresi dan berpolitik semakin terbuka. Hal ini memberi ruang bagi kelompok masyarakat untuk mengekspresikan identitasnya. Pollitik identitas mulai terlihat jelas dalam berbagai pemilihan kepala daerah, bahkan hingga pemilihan presiden.
Kasus paling mencolok terjadi pada Pilkada DKI Jakarta 2017, di mana isu agama dan etnis begitu kuat memengaruhi pilihan politik masyarakat. Fenomena ini menandai bahwa identitas kerap menjadi faktor penentu dalam kontestasi politik, bukan semata gagasan maupun program kerja.

Baca Juga : Semangat Kemerdekaan! Ratusan Siswa SDN 09 Mempawah Hilir Ikut Gerak Jalan Kabupaten
Dampak Positif Politik Identitas
Meski sering dipandang negatif, pollitik identitas sebenarnya memiliki sisi positif. Identitas dapat memperkuat rasa kebersamaan dalam kelompok tertentu. Misalnya, keterwakilan politik perempuan atau kelompok minoritas yang mendorong kebijakan lebih inklusif. Pollitik identitas juga bisa menjadi jalan untuk memperjuangkan keadilan, hak asasi manusia, serta pemerataan pembangunan bagi kelompok-kelompok yang sebelumnya terpinggirkan.
Dampak Negatif yang Mengkhawatirkan
Namun, ketika digunakan secara berlebihan, pollitik identitas berpotensi menimbulkan polarisasi tajam di masyarakat. Fanatisme yang buta dapat memunculkan ujaran kebencian, diskriminasi, bahkan konflik sosial. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, hal ini tentu sangat berbahaya. Persatuan yang telah dibangun sejak proklamasi kemerdekaan bisa retak hanya karena perbedaan pilihan politik.
Tantangan Menjelang Pemilu 2024 dan 2029
Menjelang Pemilu 2024 lalu, isu pollitik identitas kembali mencuat. Media sosial menjadi ruang utama penyebaran narasi berbasis identitas, baik dalam bentuk kampanye maupun propaganda. Para pengamat politik menilai, tren ini akan terus berulang di pemilu-pemilu mendatang, termasuk menuju 2029, jika tidak ada upaya serius untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya pollitik identitas yang berlebihan.
Peran Pemerintah dan Masyarakat
Untuk mencegah dampak buruk politik identitas, pemerintah, partai politik, media, serta masyarakat harus bekerja sama. Pemerintah perlu menegakkan aturan tegas terhadap ujaran kebencian dan politik SARA. Partai politik dituntut lebih mengedepankan adu gagasan dan program, bukan memainkan sentimen identitas. Sementara itu, masyarakat harus semakin cerdas dalam menyaring informasi agar tidak mudah terprovokasi.
Jalan Tengah: Politik Kebangsaan
Banyak akademisi dan tokoh bangsa mendorong agar politik Indonesia mengarah pada politik kebangsaan, yaitu politik yang menjadikan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar utama. Dengan begitu, identitas tetap bisa dihormati sebagai kekayaan bangsa, tetapi tidak dijadikan alat pemecah belah.
Penutup
Pollitik identitas akan selalu hadir dalam demokrasi, karena identitas merupakan bagian dari diri manusia. Yang perlu dijaga adalah batasannya. Selama identitas digunakan untuk memperjuangkan keadilan dan keterwakilan, hal itu sah-sah saja. Namun, ketika digunakan untuk memecah belah bangsa, pollitik identitas berubah menjadi ancaman serius.
Indonesia yang berdiri di atas keberagaman hanya akan kuat jika masyarakatnya mampu menjaga persatuan. Seperti pesan para pendiri bangsa: Berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
















