Info Mempawah – Sekolah Dasar (SD) Bunda di Sungai Pinyuh tengah menghadapi krisis serius. Saat ini, hanya tersisa delapan siswa kelas enam yang masih aktif, sementara tiga guru yang tersisa mengaku belum menerima gaji selama bertahun-tahun.
Kepala Sekolah SD Bunda, Petrus Romy, mengungkapkan bahwa dirinya dan sang istri—yang juga merupakan guru di sekolah tersebut—sudah lebih dari dua tahun tidak mendapatkan honor.
“Sudah lama kami bertahan tanpa gaji, tapi tahun ini terasa makin berat. Istri saya juga tidak menerima upah sejak Desember lalu,” ujar Petrus, Jumat (11/7/2025).
Meski secara legalitas SD Bunda masih terdaftar aktif dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik), kondisi operasional sekolah sangat memprihatinkan. Yayasan sebagai pihak pengelola kesulitan menyediakan dana operasional minimal sekitar Rp 6 juta per bulan.
Baca Juga : Serapan APBD Mempawah Tahun 2024 Capai 96,61 Persen, Ini Rinciannya
Kondisi ini memantik perhatian Ketua DPRD Mempawah, Safruddin Asra, yang menegaskan bahwa delapan siswa yang tersisa harus tetap dijamin haknya untuk menyelesaikan pendidikan tanpa dibebani pungutan.
“Urunan wali murid bukan solusi. Pendidikan dasar harus tetap gratis. Pemerintah wajib hadir dan ambil tanggung jawab,” tegasnya.
DPRD Mempawah pun langsung menggelar rapat koordinasi bersama Dinas Pendidikan, Yayasan Bunda, serta orang tua murid di ruang rapat DPRD Mempawah. Pertemuan ini bertujuan mencari solusi konkret demi keberlangsungan pendidikan siswa yang tersisa.
Kabid PAUD dan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Mempawah, Arpandi, mengatakan bahwa masalah ini telah berlangsung sejak dua tahun terakhir. Minimnya penerimaan siswa baru kelas satu dan dua menyebabkan jumlah murid menurun drastis.
“Kami sudah lakukan pembinaan melalui pengawas sekolah. Tapi karena murid sangat sedikit, sekolah kesulitan bertahan. Siswa kelas enam tetap akan lanjut sampai lulus. Siswa lain akan dipindahkan ke sekolah terdekat,” jelasnya.
Terkait honor guru swasta, Arpandi menjelaskan bahwa tidak ada anggaran pemerintah khusus untuk itu. Namun, bantuan operasional masih bisa diakses melalui Dana BOS, selama pihak yayasan aktif mengajukan sesuai mekanisme.
“Kalau ingin sekolah tetap bertahan, harus ada koordinasi lebih kuat dari yayasan, termasuk menjalin kerja sama dengan donatur,” pungkasnya.
Kini, masa depan SD Bunda bergantung pada sinergi antara yayasan, pemerintah daerah, dan elemen masyarakat. Tanpa itu, pendidikan dasar siswa yang tersisa terancam terputus di tengah jalan.






